Harta dan pendorong utama dari kemakmuran ekonomi di zaman industri adalah mesin dan modal, yakni benda. Manusia diperlukan, tetapi dapat diganti. Anda dapat mengontrol dan merotasi atau mengganti ganti para pekerja manusia dengan hanya sedikit konsekuensi yang ditimbulkan, karena pasokannya melampaui kebutuhannya. Anda hanya perlu mendapatkan orang baru yang mau mengikuti prosedur ketat. Manusia lalu seperti benda. Anda bisa bertindak efisien dengan mereka. Yang anda perlukan hanya tubuh orang orang itu, dan bukan pikiran, hati atau jiwa (yang semuanya merupakan penghalang bagi mulusnya proses zaman mesin) dan dengan demikian anda menurunkan derajat manusia menjadi sekadar benda.
Begitu banyak praktik manajemen modern kita berasal dari zaman industri. itu memberi kita keyakinan bahwa kita harus mengontrol dan mengelola manusia. Itu juga yang membentuk pandangan kita mengenai akuntansi, sedemikian sehingga manusia dianggap biaya, sementara mesin dipandang sebagai asset. Coba pikirkan hal ini. Manusia diletakkan dalam perhitungan rugi-laba sebagai pengeluaran, sedangkan peralatan diletakkan dalam pembukuan sebagai investasi.
Di bidang motivasi, hal itu jugalah yang membentuk falsafah “wortel dan cambuk”, yaitu system pengelolaan manusia yang sekadar menganggapnya sebagai seekor keledai, yang harus dikendalikan dengan hadiah dan hukuman. Manusia dimotivasi dengan meletakan wortel (hadiah) dihadapannya dan dipacu dengan cambuk (ketakutan dan hukuman) di belakang.
Itu pulalah yang menghasilkan perencanaan keuangan secara terpusat dimana berbagai trend atau kecenderungan diekstrapolasi ke masa depan, lalu hierarki dan birokrasi dibentuk untuk “mewujudkan angka angka”… suatu proses reaktif yang sudah ketinggalan zaman, yang menghasilkan budaya “asal bos senang” dan “aji mumpung” yang akan bermuara pada sikap “belanjakan saja sampai habis, agar tahun depan anggaran kita tidak dikurangi”, dan menutuo nutupi kebobrokan organisasi.
Semua praktik itu, dan masih banyak lagi berasal dari zaman industry yang bekerja dengan para pekerja manual. Masalahnya adalah, para manajer saat ini masih menerapkan model control zaman industry itu terhadap para pekerja pengetahuan. Karena banyak orang yang memegang otoritas tidak mengetahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang orangnya, serta tidak memiliki pemahaman yang utuh dan tepat mengenai kodrat manusia, mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang. Kurangnya pemahaman ini juga menghalangi mereka untuk dapat mendayagunakan motivasi, bakat dan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh orang orangnya. Hal itu merendahkan dan mengasingkan mereka, mendepersonalisasi kerja, serta menciptakan budaya yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang lebih rendah, seragam, dan serba curiga, penu selidik. Apa yang terjadi bila Anda memperlakukan anak remaja seperti benda?. Perlakuan itupun merendahkan, mengasingkan, mendepersonalisasikan hubungan pertalian keluarga yang amat berharga, serta nenciptakan keluarga yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, perlawanan dan pembangkangan.


1 komentar:
mantaaaaaap.........:)
Posting Komentar